4.700 Bisnis F&B di Singapura Tutup, Upah Terlalu Mahal hingga Lonjakan Harga Sewa

bisnis F&b
4.700 Bisnis F&B di Singapura Tutup, Upah Terlalu Mahal hingga Lonjakan Harga Sewa. (ilustrasi: pexels)

SKALABESAR.ID — Krisis melanda sektor Makanan dan Minuman (F&B) di Singapura. Krisis ini tergolong unik, karena kontras dengan data belanja konsumen yang secara umum membaik.

Dessert Guru, yang memasok bahan bubble tea, melaporkan bahwa klien yang biasanya membayar dalam 30 hari kini membutuhkan waktu hingga 120 hari atau empat bulan untuk melunasi tagihan. Penundaan ini mulai marak terjadi sejak akhir 2023.

Situasi ini sangat membebani pemasok karena mereka harus membayar pemasok mereka sendiri. “Kami membayar di muka… hanya agar mereka membayar kami kembali dalam tiga hingga empat bulan, jadi ini sedikit menyakitkan bagi kami,” ujar Ken Tan, salah satu pemilik Dessert Guru.

Dalam kondisi demikian, pemasok harus menanggung beban arus kas (cash flow) yang sangat berat selama berbulan-bulan.

Karena dihadapkan pada keadaan tersebut, para pemasok mulai memperketat kebijakan kredit mereka. Toko daging dan bistro lokal Huber’s misalnya, kini menuntut rekam jejak yang panjang dan bagus dari klien baru mereka. Hal ini dilakukan setelah perusahaan tersebut pernah kehilangan 70 ribu dolar Singapura atau sekitar Rp898 juta ketika seorang pelanggan menghilang tanpa membayar.

Data Belanja Konsumen Menguat tapi Ribuan Bisnis F&B Tutup

Lebih dari 3.000 tempat usaha F&B tutup pada tahun 2024, angka tertinggi selama hampir 20 tahun. Berdasarkan data The Accounting and Corporate Regulatory Authority, sepanjang 2025 hingga Agustus, ada lebih dari 1.700 tempat usaha gulung tikar. Total sampai sekarang ada 4.700 usaha F&B yang tutup.

Korban-korban krisis ini mencakup merek internasional seperti Eggslut dan Burger & Lobster, jaringan hotpot besar seperti Haidilao (yang menutup tiga restoran), hingga restoran fine-dining ternama seperti Euphoria Restaurant dan Alma by Juan Amador. Bahkan kedai zi char legendaris berusia 86 tahun, Ka-Soh, juga terpaksa tutup.

Di sisi lain, krisis F&B ini terjadi di tengah data yang menunjukkan penjualan ritel secara keseluruhan menguat. Pada Agustus, penjualan ritel tumbuh 5,2% year-on-year), melebihi ekspektasi analis.

Kenaikan ini didominasi oleh barang non-makanan seperti jam tangan, perhiasan, barang rekreasi, dan juga supermarket/hipermarket, yang didorong oleh voucher pemerintah.

Namun, penjualan jasa F&B mengalami penurunan 0,4% secara tahunan pada Agustus 2025, dengan segmen restoran mencatat penurunan terbesar (3,2%). Sebaliknya, katering makanan dan gerai makanan cepat saji justru mencatat pertumbuhan positif, menandakan pergeseran preferensi konsumen.

Apa Faktor Penyebabnya?

Setidaknya ada tiga faktor utama yang secara bersamaan menciptakan “badai” yang memaksa mereka menyerah:

1. Kenaikan Sewa yang “Gila”

Sewa properti adalah biang keladi utama. Ka-Soh, misalnya, dipaksa tutup karena menghadapi ancaman kenaikan sewa sebesar 30%.

Kelompok penyewa melaporkan bahwa kenaikan sewa antara 20% hingga 49% telah menjadi fenomena yang disebut “belum pernah terjadi sebelumnya” selama dua dekade terakhir. Kenaikan ini didorong oleh properti ruko yang menjadi incaran investor, sehingga meningkatkan ekspektasi imbal hasil sewa.

2. Krisis Tenaga Kerja dan Upah Mahal

Industri ini juga dihantam oleh krisis tenaga kerja. Dengan persediaan juru masak dan staf yang menipis, pemain yang lebih besar dengan modal kuat dapat menawarkan gaji hingga dua kali lipat. Akibatnya, bisnis F&B skala kecil tidak mampu bersaing.

Pemerintah melihat masalah ini sebagai kejenuhan pasar, di mana jumlah tempat makan eceran terlalu banyak, sehingga memaksa pemain kecil didesak keluar oleh rantai besar.

3. Perubahan Perilaku Konsumen dan Permintaan Menurun

Meskipun pariwisata terlihat cerah, sentimen konsumen lokal terbebani oleh pertumbuhan upah yang melambat dan ketidakpastian ekonomi global, yang membuat mereka cenderung berhemat.

Pemilik restoran mengamati penurunan frekuensi kunjungan pelanggan secara signifikan. Data juga memperkuat hal ini. Konsumen cenderung memilih katering dan makanan cepat saji ketimbang restoran.

Apa Solusinya?

Di tengah badai ini, satu-satunya jalan keluar bagi banyak bisnis adalah adaptasi yang cepat. Mengadopsi digitalisasi dan media sosial terbukti efektif, di mana kafe yang aktif berinteraksi dan membuat konten di media sosial melihat bisnisnya melonjak 30% hingga 40%.

Selain itu, perlu adanya peningkatan produktivitas melalui teknologi seperti perangkat lunak CRM dan sistem keanggotaan untuk mengelola bisnis lebih efisien dengan staf yang sama.

Berikutnya, perlu ada lobi agar sewa tempat jadi lebih fair, yakni batas kenaikan dipatok pada inflasi atau pertumbuhan PDB.

Sumber:

straitstimes.com
channelnewsasia.com
vnexpress.net

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

18 − fifteen =

Scroll to Top