Prospek Cerah Produk Wellness di Indonesia 2026: Inovasi dan Peluang Lokal yang Belum Tergarap

SKALABESAR.ID — Industri wellness global terus menunjukkan pertumbuhan yang eksponensial. Industri ini bertransformasi dari sekadar gaya hidup menjadi prioritas utama bagi konsumen di seluruh dunia, termasuk Indonesia.

Wellness sendiri merupakan proses aktif untuk melakukan aktivitas menuju gaya hidup yang sehat dan sejahtera. Berbeda dengan “sehat” (health) yang biasanya hanya diartikan sebagai kondisi tubuh yang tidak sakit, wellness adalah konsep yang lebih luas dan proaktif.

Ada beberapa poin utama untuk memahami apa itu wellness. Pertama, wellness tidak hanya soal olahraga dan makan sehat. Ini mencakup keseimbangan berbagai dimensi hidup, termasuk kesehatan mental, emosional, spiritual, sosial, hingga finansial.

Kedua, proaktif, bukan reaktif. Jika orang pergi ke dokter saat sudah sakit (reaktif), wellness adalah upaya pencegahan dan peningkatan kualitas hidup agar tidak mudah sakit (proaktif).

Ketiga, wellness adalah proses perjalanan yang terus berlanjut, di mana seseorang selalu berusaha menjadi versi terbaik dari dirinya.

Market Wellness secara Global

Market wellness diproyeksikan mencapai nilai antara $7 hingga $10 triliun pada tahun 2026-2029, dengan laju pertumbuhan tahunan sekitar 6-10%. Artinya, pasar wellness menawarkan peluang signifikan bagi inovator, pebisnis maupun investor.

Apa motor utama di balik tren tersebut? Hal ini tak lepas dari pergeseran paradigma kesehatan yang mulai disadari masyarakat. Sadar tentang pentingnya pencegahan dan kualitas hidup jangka panjang.

Wellness tak lagi dipandang sebagai aspek kesehatan yang reaktif, tapi telah menjadi proaktif. Survei menunjukkan bahwa 84% konsumen global kini menjadikan wellness sebagai prioritas utama dalam kehidupan sehari-hari mereka.

Kategori Produk Global dengan Pertumbuhan Signifikan

1. Teknologi Tidur (Sleep Tech)

Kualitas tidur telah diakui sebagai pilar fundamental kesehatan, namun ironisnya, ini juga merupakan area dengan kebutuhan yang paling tidak terpenuhi bagi banyak orang.

McKinsey melaporkan bahwa tidur adalah prioritas kesehatan dan wellness tertinggi kedua bagi konsumen, dengan 37% konsumen menyatakan keinginan terhadap produk dan layanan yang dapat meningkatkan kualitas tidur.

Gangguan tidur, terutama kurangnya tidur nyenyak, terkait erat dengan berbagai kondisi kronis seperti penyakit Alzheimer, kecemasan, depresi, hipertensi, dan diabetes tipe 2.

Karena itu, tidak mengherankan jika pasar teknologi tidur diproyeksikan mencapai $32 miliar pada tahun 2026, meningkat tajam dari $11 miliar pada tahun 2019.

Produk-produk dalam kategori ini meliputi perangkat wearable untuk melacak kualitas tidur, stimulasi elektroterapi, kasur pintar yang adaptif, dan aplikasi atau program pelatihan tidur berbasis AI. Inovasi ini menawarkan solusi yang lebih personal dan efektif untuk mengatasi masalah tidur yang kompleks.

2. Longevity & Healthy Aging (Penuaan Sehat Proaktif)

Konsep penuaan yang sehat telah berevolusi dari sekedar memperpanjang usia menjadi mempertahankan vitalitas dan kualitas hidup di usia senja. Tren ini tidak lagi hanya menyasar populasi lansia, melainkan juga generasi muda seperti Gen Z dan Milenial yang semakin proaktif dalam mengelola kesehatan jangka panjang mereka. Sekitar 60% konsumen menganggap produk longevity sebagai “sangat penting”.

Produk-produk dalam kategori ini mencakup kit pengujian usia biologis, suplemen senolitik, peningkat NAD+, dan klinik longevity yang menawarkan program kesehatan personal.

Rasionalisasi terhadap produk semacam ini adalah keinginan kuat konsumen untuk mencegah penyakit terkait usia dan mempertahankan fungsi kognitif serta fisik yang optimal sepanjang hidup mereka.

3. Manajemen Berat Badan (Era GLP-1)

Manajemen berat badan tetap menjadi perhatian utama bagi banyak konsumen, dengan hampir satu dari tiga orang dewasa memenuhi kriteria obesitas dan 60% konsumen berusaha menurunkan berat badan. Munculnya obat-obatan penurun berat badan resep seperti agonis reseptor peptida-1 mirip glukagon (GLP-1) telah merevolusi pendekatan terhadap manajemen berat badan.

Ini menciptakan kebutuhan baru untuk produk wellness pendamping yang mendukung kesehatan secara holistik. Contohnya termasuk suplemen untuk menjaga massa otot selama penurunan berat badan, perangkat pemantau kesehatan metabolik seperti Continuous Glucose Monitor (CGM) untuk non-diabetes, dan aplikasi nutrisi yang dipersonalisasi. Integrasi solusi medis dengan pendekatan wellness holistik juga akan menjadi kunci pertumbuhan di segmen ini.

Bagaimana dengan Pasar Wellness Indonesia?

Pasar wellness di Indonesia menunjukkan dinamika yang sangat menjanjikan, sejalan dengan meningkatnya kesadaran masyarakat akan pentingnya gaya hidup sehat dan kualitas hidup.

Penting diketahui, nilai pasar wellness Indonesia diperkirakan tumbuh hingga USD 72,8 miliar atau sekitar Rp 1.200 triliun pada tahun 2034, dengan tingkat pertumbuhan tahunan gabungan (CAGR) sebesar 3,98% selama periode 2026-2034. Dari data ini, Indonesia menjadi salah satu pasar wellness yang paling menarik di Asia Tenggara.

Data lain juga menunjukkan bahwa 91% masyarakat Indonesia memprioritaskan kesejahteraan mereka, dengan 71% di antaranya secara aktif berupaya meningkatkan kesehatan mereka.

Transformasi ini didorong oleh penetrasi digital yang tinggi, ekspansi e-commerce, kampanye kesehatan pemerintah, dan peningkatan pendapatan per kapita.

Kategori Produk dengan Pertumbuhan Signifikan di Indonesia

1. Jamu Modern & Fitofarmaka (Herbal 2.0)

Indonesia kaya akan warisan pengobatan herbal tradisional, terutama jamu. Di tahun 2026, jamu diprediksi akan “naik kelas” melalui inovasi yang menggabungkan kearifan lokal dengan sentuhan modern dan validasi ilmiah. Industri herbal di Indonesia diproyeksikan mencapai valuasi USD 25,4 miliar atau sekitar Rp 426 triliun. Ini menunjukkan potensi besar untuk produk-produk berbasis tanaman obat.

Konsumen, khususnya generasi muda seperti Gen Z dan Milenial, semakin tertarik pada jamu kekinian yang menawarkan kemasan praktis, rasa yang lebih bervariasi, dan klaim kesehatan yang didukung riset.

Pengembangan fitofarmaka, yaitu obat herbal terstandar dengan bukti ilmiah yang kuat, akan menjadi kunci untuk membangun kepercayaan konsumen dan memperluas pasar. Produk-produk ini dapat mencakup minuman herbal fungsional, suplemen dari ekstrak tanaman lokal, hingga kosmetik berbahan dasar herbal yang teruji klinis.

2. Ekosistem Wellness Halal

Sebagai negara dengan populasi Muslim terbesar di dunia, Indonesia memiliki pasar yang sangat besar untuk produk dan layanan halal. Dengan diberlakukannya kewajiban sertifikasi halal pada tahun 2026 untuk berbagai produk, termasuk makanan, minuman, kosmetik, dan obat-obatan, ekosistem wellness halal akan mengalami pertumbuhan pesat.

Pasar ekonomi halal global diproyeksikan mencapai USD 807 miliar atau sekitar Rp 13.400 triliun pada tahun 2030, dan Indonesia akan menjadi pemain kunci dalam pertumbuhan ini.

Produk wellness halal tidak hanya mencakup makanan dan minuman, tetapi juga skincare, suplemen, dan nutraceuticals yang diproduksi sesuai prinsip syariah. Sertifikasi halal menjadi penanda kualitas dan kepercayaan bagi konsumen Muslim, membuka peluang besar bagi merek lokal maupun internasional untuk berinvestasi di segmen ini.

3. Digital Health & Personalized Nutrition

Peningkatan penetrasi smartphone dan gaya hidup urban yang serba cepat telah mendorong adopsi solusi kesehatan digital di Indonesia. Industri kesehatan digital Indonesia diperkirakan akan melampaui USD 900 juta atau senilai Rp 15 triliun pada tahun 2026.

Aplikasi kesehatan, platform telekonsultasi, dan layanan coaching wellness virtual semakin diminati. Selain itu, tren nutrisi yang dipersonalisasi juga berkembang pesat.

Produk-produk seperti katering sehat berbasis data, aplikasi perencanaan makan yang disesuaikan dengan kebutuhan individu, dan suplemen yang direkomendasikan berdasarkan analisis genetik atau mikrobioma akan menjadi daya tarik utama. Solusi digital ini menawarkan kemudahan akses dan personalisasi yang sangat dibutuhkan oleh masyarakat perkotaan yang sibuk.

Peluang Pasar yang Belum Banyak Digarap (Blue Oceans Lokal)

Di tengah pertumbuhan pesat ini, terdapat beberapa “blue ocean” atau peluang pasar yang masih belum banyak digarap di Indonesia, menawarkan potensi inovasi yang besar:

1. Wisata Kebugaran (Wellness Tourism) Domestik

Indonesia memiliki kekayaan alam dan budaya yang luar biasa, menjadikannya destinasi ideal untuk wisata kebugaran. Meskipun tren wisata wellness global terus meningkat, potensi domestik Indonesia masih belum sepenuhnya tergarap.

Destinasi seperti Bali, Solo, dan Yogyakarta dapat dikembangkan sebagai pusat penyembuhan tradisional yang mengintegrasikan spa, yoga, meditasi, dan pengobatan herbal (jamu) dengan fasilitas modern. Peluang ini terletak pada penciptaan paket wisata yang holistik, menggabungkan relaksasi, detoksifikasi, dan pengalaman budaya lokal yang otentik, serta promosi yang lebih gencar untuk pasar domestik dan internasional.

2. Silver Economy (Wellness untuk Lansia)

Peningkatan harapan hidup di Indonesia berarti populasi lansia yang terus bertambah. Segmen ini memiliki kebutuhan wellness yang sangat spesifik, mulai dari nutrisi yang disesuaikan, program kebugaran ringan, hingga layanan pendampingan dan terapi fisik. Pasar “silver economy” ini masih relatif belum tergarap secara komprehensif.

Produk dan layanan yang berfokus pada pencegahan penyakit degeneratif, peningkatan mobilitas, dan dukungan kesehatan mental bagi lansia akan memiliki permintaan yang tinggi di masa depan.

3. Komersialisasi Superfood Lokal

Indonesia memiliki beragam superfood lokal yang kaya nutrisi dan khasiat, seperti kelor (moringa), temulawak, dan manggis. Namun, komersialisasi dan branding produk-produk ini masih terbatas.

Ada peluang besar untuk mengembangkan produk olahan dari superfood lokal ini dengan standar kualitas tinggi, kemasan menarik, dan klaim kesehatan yang didukung riset ilmiah. Pemasaran yang tepat dapat mengangkat superfood lokal ini ke pasar nasional dan internasional, menawarkan alternatif sehat yang otentik dan berkelanjutan.

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

1 + 6 =

Scroll to Top