Cerita Konglo Prajogo Pangestu: Datang Pagi ke Kantor Pakai Sepatu Murah, Pulang Jam 2 Malam

bisnis
Cerita Konglo Prajogo Pangestu: Datang Pagi ke Kantor Pakai Sepatu Murah, Pulang Jam 2 Subuh. (foto ilustrasi: pexels)

SKALABESAR.ID — Ketika membayangkan sosok orang terkaya di Indonesia, sebagian besar dari kita mungkin akan langsung membayangkan kehidupan glamor. Pakaian branded, jam tangan mewah, mobil sport, atau bahkan gaya hidup penuh pesta.

Namun, cerita tentang Prajogo Pangestu justru menghadirkan kontras yang mengejutkan. Sosok konglomerat yang kekayaannya mencapai ratusan triliun rupiah ini dikenal sangat sederhana.

Pandu Sjahrir, salah satu investor muda Indonesia, pernah menceritakan pengalamannya bersama Hotman Paris terkait pertemuan dengan Prajogo. “Sepatunya murah, pak,” kata Pandu.

Hotman Paris yang memang dikenal suka gaya hidup mewah pun mengiyakan dengan nada kagum. Meski Prajogo kliennya dan orang terkaya di Indonesia, gaya berpakaiannya biasa saja, bahkan cenderung sederhana.

Hal lain yang luar biasa dari sosok Prajogo hingga dikagumi oleh Pandu dan Hotman, adalah rutinitas kerjanya. Sebab, dia biasa tiba di kantor jam 10 pagi, tapi baru pulang jam 2 subuh.

Bahkan gedung kantornya di daerah Slipi sudah gelap gulita, hanya tersisa lampu di ruangan Prajogo. Ditemani sekretaris dan beberapa orang security. Sementara semua karyawan lain sudah pulang.

Pandu yang pertama kali dikenalkan kepada Prajogo oleh ayahnya pada 2005 juga mengonfirmasi cerita itu. Ia mengatakan, “Bener ceritanya abang, udah gelap, tinggal dia doang di situ. Luar biasa.”

Bagi Hotman, ada satu pertanyaan yang menggantung di benaknya. “Sebetulnya aku mau tanya ke Prajogo, kebahagiaan kamu apa sih? Karena sepatunya biasa banget, jaketnya biasa banget. Mungkin kebahagiaannya justru ada di saat menghitung kesuksesannya itu.”

Dari Sopir Angkot Menjadi Raja Kayu

Kesederhanaan Prajogo mungkin bisa dipahami jika kita menelusuri perjalanan hidupnya. Dia lahir dengan nama Phang Djoen Phen di Kalimantan Barat pada 13 Mei 1944, dari keluarga yang sangat sederhana.

Pendidikan formalnya hanya sampai tingkat SMP karena keterbatasan ekonomi. Saat merantau ke Jakarta, dia sempat mengalami kegagalan dan akhirnya kembali ke kampung halaman untuk bekerja sebagai sopir angkot.

Namun, takdir membawanya pada titik balik di tahun 1970-an ketika ia bergabung dengan perusahaan kayu milik Burhan Uray, Djajanti Group. Berkat ketekunan dan kerja keras, ia dipercaya hingga menduduki posisi manajer umum. Tetapi naluri bisnisnya yang kuat mendorongnya untuk mandiri.

Pada 1977, dia mendirikan Barito Pacific Timber. Dari sinilah karier bisnisnya benar-benar lepas landas. Perusahaan kayu itu berkembang pesat, bahkan sempat menjadi yang terbesar di Indonesia dan melantai di bursa efek pada 1993.

Transformasi Bisnis ke Energi dan Petrokimia

Prajogo bukanlah tipe pengusaha yang hanya berpuas diri. Menyadari perubahan zaman dan meningkatnya isu lingkungan, ia berani mengambil keputusan besar dengan mengubah arah bisnis. Pada 2007, ia mengurangi ketergantungan pada sektor kayu dan mengubah nama perusahaannya menjadi Barito Pacific.

Langkah ini diikuti dengan ekspansi ke industri petrokimia melalui akuisisi PT Chandra Asri Petrochemical Tbk (TPIA), yang kini menjadi pemain utama di Indonesia. Tidak hanya itu, ia juga masuk ke bisnis energi terbarukan dengan mengakuisisi Star Energy, salah satu produsen energi panas bumi terbesar.

Visinya pun semakin terlihat saat membawa perusahaan tambang batu bara, Petrindo Jaya Kreasi (CUAN), untuk melantai di bursa. Dengan strategi ini, Prajogo berhasil menciptakan imperium bisnis yang tidak hanya kuat, tetapi juga beragam, mencakup sektor energi, petrokimia, dan sumber daya alam.

Orang Terkaya di Indonesia dan Asia Tenggara

Hasil kerja kerasnya kini terbayar. Berdasarkan data Forbes Real Time Billionaires List per 9 Agustus 2025, kekayaan bersih Prajogo Pangestu mencapai 33,8 miliar dolar AS atau sekitar Rp 550,94 triliun.

Angka ini membuatnya menjadi orang terkaya di Indonesia sekaligus Asia Tenggara, serta menempati posisi ke-58 orang terkaya di dunia.

Untuk memberi gambaran, jumlah kekayaan tersebut setara dengan 33 miliar porsi nasi Padang dengan harga Rp 17.000 per porsi. Jika dibagikan, seluruh rakyat Indonesia bisa makan nasi Padang gratis selama tiga tahun penuh.

Namun, di balik angka yang begitu fantastis, Prajogo tetap tampil sederhana. Tidak ada kesan glamor yang biasanya melekat pada miliarder. Sepatunya murah, jaketnya biasa, dan jam kerjanya ekstrem. Seolah-olah yang membuatnya bahagia bukanlah barang mewah, melainkan kerja keras itu sendiri.

Filosofi Hidup Seorang Prajogo

Cerita ini memberi pelajaran berharga tentang bagaimana kesuksesan tidak selalu harus ditunjukkan lewat penampilan. Banyak orang berlomba memamerkan kekayaan, namun Prajogo justru memilih jalan berbeda. Ia menghabiskan waktunya untuk membangun bisnis dan memastikan perusahaannya terus bertumbuh.

Pandu Sjahrir menyebut, mungkin memang Prajogo benar-benar mencintai pekerjaannya. Inilah yang menjadi sumber kebahagiaan dan motivasi terbesarnya. Sementara orang lain mencari kesenangan lewat harta, ia menemukannya dalam rutinitas kerja yang konsisten dan penuh dedikasi.

Sosoknya menjadi contoh nyata bahwa kesederhanaan tidak menghalangi kesuksesan. Justru dari kesederhanaan itulah lahir kedisiplinan, keuletan, dan kerja keras yang membawa Prajogo dari sopir angkot menjadi salah satu pengusaha paling berpengaruh di Asia Tenggara.

sumber naskah: youtube Hotman Paris Official

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

two + 15 =

Scroll to Top