SKALABESAR.ID — Budaya kerja yang menuntut performa tinggi tanpa henti, atau yang populer disebut hustle culture, sering kali dipuja sebagai resep kesuksesan. Namun, di tengah gempuran tuntutan kerja modern, harga yang dibayar sangat mahal: Burnout.
Kondisi kelelahan fisik, mental, dan emosional kronis ini bukan sekadar lelah, tetapi ancaman serius yang terbukti merusak keberlanjutan karir dan perekonomian.
Data pada tahun 2024 menunjukkan betapa seriusnya masalah ini. Laporan statistik (dalam Medium, 2024) mencatat bahwa 26,8% pekerja di Indonesia bekerja selama lebih dari 49 jam per minggu. Pola kerja berlebihan ini, sejalan dengan temuan WHO/ILO, secara signifikan meningkatkan risiko masalah kesehatan seperti stroke (+35%) dan penyakit jantung iskemik (+17%).
Selain itu, penelitian yang diterbitkan dalam Jurnal Maneksi (Maret 2024) menegaskan kembali bahwa beban kerja dan stres kerja berpengaruh positif dan signifikan terhadap burnout karyawan.
Melawan arus tekanan ini, yang sangat rentan menjerat Generasi Z dan Milenial, dibutuhkan sebuah kerangka penentuan target yang cerdas yaitu SMART Goals Anti-Burnout, yang menyeimbangkan ambisi tinggi dengan kapasitas manusiawi.
Mengadaptasi SMART Goals: Memprioritaskan Kapasitas Manusiawi
Kerangka SMART Goals (Specific, Measurable, Achievable, Relevant, Time-bound) adalah standar universal dalam penetapan target. Namun, di bawah pengaruh hustle culture, elemen A (Achievable) dan T (Time-bound) sering dimanipulasi menjadi target yang mustahil, hanya untuk “memaksa” kerja lebih keras.
Untuk mencegah burnout (yang menurut riset Wamatadia, Vidyastuti & Kur’ani (2024), dialami oleh 58% karyawan Gen Z), penekanan pada setiap elemen SMART harus dimodifikasi untuk berfokus pada kualitas proses dan batas manusiawi, bukan hanya kuantitas output.
1. S: Specific dan Sustainable (Spesifik dan Berkelanjutan)
- Perluasan Definisi: Target yang spesifik harus mencakup detail mengenai bagaimana pekerjaan itu dilakukan agar tetap berkelanjutan.
- Goal Tradisional: “Meningkatkan rasio konversi 15%.”
- Goal Anti-Burnout: “Meningkatkan rasio konversi 15% melalui implementasi sistem CRM baru, dengan alokasi waktu onboarding tim 3 jam per minggu dan tanpa gangguan pada waktu istirahat harian.*”
- Dengan menentukan batasan proses secara spesifik, tim didorong untuk bekerja lebih cerdas dan mencegah ekspektasi kerja di luar jam kerja.
2. M: Measurable (Terukur) – Mengukur Batasan Waktu dan Energi
- Pengukuran harus mencakup metrik yang melindungi kesejahteraan mental.
- Metrik Kualitas (Anti-Burnout): Bukan hanya output bisnis, tetapi juga Skor Kualitas (Quality Score) hasil kerja (untuk menghindari pengerjaan ulang yang memicu stres) atau Persentase Kepatuhan Waktu Istirahat Siang.
- Implikasi Riset: Mengukur kepatuhan terhadap batasan waktu adalah indikator penting work-life balance, sebuah konsep yang menjadi krusial bagi Milenial dan Gen Z, seperti yang diulas dalam Jurnal Manajemen Sosial Ekonomi (Mei 2024) terkait dampaknya terhadap retensi karyawan.
3. A: Achievable (Dapat Dicapai) – Mengintegrasikan Buffer dan Kapasitas Realistis
- Ini adalah elemen penentu anti-burnout. Target harus melalui Asesmen Kapasitas Beban Kerja.
- Riset Felix (2024) mengonfirmasi bahwa beban kerja yang berlebihan adalah penyebab langsung burnout. Oleh karena itu, target haruslah menantang, tetapi tidak mustahil.
- Implementasi Praktis: Setiap target ambisius harus menyertakan alokasi waktu cadangan (buffer time) minimal 10-15%. Penting bagi pimpinan untuk secara aktif “mengurangi” atau “menunda” tugas dengan prioritas rendah (teknik delegasi atau penghapusan dari Matriks Eisenhower) ketika target A sedang dikerjakan. Ini adalah pertahanan terkuat melawan beban kerja yang tidak realistis.
4. R: Relevant (Relevan) – Sejalan dengan Nilai Keseimbangan Hidup
- Tujuan tidak hanya harus relevan dengan bisnis, tetapi juga dengan nilai-nilai pribadi dan kesejahteraan (well-being) tim.
- Jika tujuan bisnis secara konsisten mengorbankan waktu pribadi, target tersebut menjadi tidak “relevan” dalam konteks retensi karyawan muda.
- Contoh: Jadikan “Mempertahankan Skor Kepuasan Karyawan (E-Sat) di atas 85% selama kuartal sibuk” sebagai Key Result wajib. Ini menunjukkan komitmen perusahaan untuk tidak hanya mencapai target finansial, tetapi juga keberlanjutan tim.
5. T: Time-bound (Berbatas Waktu) – Menghormati Tenggat Waktu Berhenti (Log-off)
- Batas waktu harus diterapkan secara ketat pada waktu berhenti (log-off time) dan istirahat.
- Tujuan yang Sehat: Tenggat waktu menandakan akhir dari pekerjaan, bukan awal dari jam kerja tanpa akhir.
- Praktik terbaik di tempat kerja yang sehat adalah melarang meeting atau komunikasi pekerjaan yang tidak mendesak di luar jam kerja. Hal ini penting untuk menciptakan pemisahan yang jelas antara pekerjaan dan kehidupan pribadi, yang merupakan tuntutan utama Gen Z.
Berdasarkan pemaparan tersebut, dapat dikatakan bahwa mengganti budaya hustle dengan target yang lebih manusiawi adalah langkah strategis dan bukan kemunduran. Target yang ditetapkan secara realistis dengan kerangka SMART Goals Anti-Burnout bertujuan untuk memastikan karyawan tetap termotivasi oleh tantangan yang menantang namun dapat dimenangkan.
Dengan menetapkan batasan yang jelas dan mengukur keberhasilan proses yang sehat, perusahaan dapat menciptakan tempat kerja di mana semua orang bisa berprestasi tanpa terbakar habis.



