Mengapa Raksasa Tupperware Akhirnya Tumbang?

SKALABESAR.ID — Tupperware, merek yang selama puluhan tahun menjadi simbol wadah plastik berkualitas di dapur seluruh dunia, resmi mengajukan perlindungan kebangkrutan Bab 11 (Chapter 11) pada September 2024.

“Dengan berat hati, kami mengumumkan bahwa Tupperware Indonesia secara resmi telah menghentikan operasional bisnisnya sejak 31 Januari 2025,” demikian pernyataan Tupperware melalui akun Instagram @tupperwareid pada Sabtu, 13 April 2025.

Perusahaan yang didirikan oleh Earl Tupper pada tahun 1946 ini gagal mempertahankan relevansinya di tengah perubahan perilaku konsumen dan dinamika pasar global yang cepat.

Kejatuhan Tupperware bukanlah peristiwa yang terjadi dalam semalam, melainkan hasil dari penurunan performa selama lebih dari satu dekade. Puncak kejayaan Tupperware terjadi pada tahun 2013 dengan pendapatan mencapai Rp 45,04 triliun (setara $2,67 miliar).

Namun, angka tersebut terus merosot hingga menyentuh Rp 21,93 triliun (setara $1,3 miliar) pada tahun 2022.

Berikut adalah gambaran kinerja finansial Tupperware dari tahun 2020 hingga 2023:

2020

  • Pendapatan 2020: Sekitar Rp 29,35 triliun (setara ~$1,74 miliar), sempat mengalami lonjakan singkat karena pandemi COVID-19.
  • Laba Bersih 2020: Mencapai Rp 1,71 triliun (setara $101,3 juta).

2021

  • Pendapatan 2021: Turun menjadi sekitar Rp 26,99 triliun (setara ~$1,60 miliar).
  • Laba Bersih 2021: Mengalami penurunan tajam menjadi Rp 232,81 miliar (setara $13,8 juta), atau anjlok 86%.

2022

  • Pendapatan 2022: Terus merosot hingga Rp 21,93 triliun (setara $1,3 miliar).
  • Laba Bersih 2022: Mencatat kerugian besar sebesar -Rp 3,66 triliun (setara -$217,1 juta), yang menjadi sinyal peringatan kebangkrutan.

2023

  • Pendapatan 2023 (Estimasi): Diperkirakan sekitar Rp 18,56 triliun (setara ~$1,1 miliar), dengan penjualan Q3 2023 sebesar Rp 4,38 triliun (setara $259,6 juta), turun dari Rp 5,12 triliun (setara $303,6 juta) pada Q3 2022.

Data menunjukkan bahwa meskipun sempat mendapatkan “napas buatan” selama pandemi COVID-19 karena orang-orang lebih banyak memasak di rumah, Tupperware gagal mempertahankan momentum tersebut.

Beban utang perusahaan membengkak hingga lebih dari Rp 11,81 triliun (setara $700 juta), sementara rasio likuiditas berada di bawah angka aman, yang berarti perusahaan tidak lagi mampu menutupi kewajiban jangka pendeknya.

Faktor Utama Penyebab Kebangkrutan

Analisis mendalam menunjukkan adanya kombinasi antara kegagalan model bisnis, inovasi yang lambat, dan persaingan yang semakin ketat.

1. Ketergantungan pada Model Penjualan Langsung (Direct Selling)

Selama puluhan tahun, Tupperware mengandalkan “Tupperware Parties” dan tenaga penjual independen. Namun, konsumen modern, terutama Generasi Z dan Milenial, lebih memilih berbelanja secara daring atau melalui toko ritel besar.

Hingga tahun 2023, sekitar 90% penjualan Tupperware masih berasal dari saluran penjualan langsung. Keterlambatan dalam beralih ke e-commerce membuat merek ini kehilangan akses ke pasar yang lebih muda.

2. Berakhirnya Hak Paten dan Munculnya Kompetitor Murah

Paten teknologi penutup kedap udara Tupperware telah berakhir sejak tahun 1980-an. Hal ini membuka pintu bagi pesaing seperti Rubbermaid, Glad, dan merek-merek privat (private labels) dari supermarket besar untuk memproduksi produk serupa dengan harga yang jauh lebih kompetitif.

Di platform seperti Amazon, produk pesaing seringkali memiliki ulasan lebih banyak dan harga yang lebih terjangkau dibandingkan Tupperware.

3. Kegagalan Inovasi dan Relevansi Merek

Tupperware dianggap sebagai “merek ibu-ibu” yang gagal melakukan rebranding untuk menarik minat generasi baru. Meskipun mereka mulai menjual produk di Target dan Amazon pada tahun 2022, langkah ini dinilai sudah sangat terlambat (too little, too late). Penjualan ritel hanya menyumbang sekitar 4% dari total pendapatan pada tahun 2022, tidak cukup untuk menutupi penurunan drastis di sektor penjualan langsung.

4. Masalah Operasional dan Makroekonomi

Kenaikan biaya bahan baku plastik, biaya tenaga kerja, dan inflasi global semakin menekan margin keuntungan perusahaan. Selain itu, Tupperware juga menghadapi masalah internal dalam pelaporan keuangan, termasuk keterlambatan pengajuan laporan tahunan 10-K ke otoritas bursa (SEC), yang merusak kepercayaan investor.

Insight Bisnis

Kasus Tupperware memberikan pelajaran berharga bagi setiap pengusaha mengenai pentingnya adaptasi dan strategi jangka panjang.

“Relevansi bukanlah tentang seberapa besar nama Anda di masa lalu, melainkan seberapa cepat Anda beradaptasi dengan masa depan.”

Berikut adalah beberapa insight bisnis dari kisah kejatuhan Tupperware:

  1. Diversifikasi Saluran Distribusi (Omnichannel). Jangan pernah bergantung pada satu metode penjualan saja. Bisnis harus hadir di mana konsumen berada, baik itu di toko fisik, marketplace, maupun media sosial.
  2. Inovasi Berkelanjutan. Ketika paten atau keunggulan teknologi Anda berakhir, inovasi harus terus berlanjut. Jangan biarkan produk Anda menjadi komoditas yang mudah digantikan oleh pesaing dengan harga lebih murah.
  3. Pahami Pergeseran Demografis. Selalu pantau perubahan perilaku dan preferensi generasi konsumen baru. Lakukan rebranding atau penyesuaian produk sebelum merek Anda dianggap usang.
  4. Manajemen Utang yang Sehat. Pertumbuhan yang didorong oleh utang yang berlebihan sangat berisiko, terutama saat kondisi ekonomi makro tidak stabil. Pastikan arus kas tetap positif untuk menutupi kewajiban finansial.
  5. Kecepatan dalam Eksekusi. Mengetahui adanya masalah adalah satu hal, tetapi mengeksekusi solusi dengan cepat adalah hal lain. Tupperware tahu mereka butuh e-commerce, tetapi mereka butuh waktu bertahun-tahun untuk benar-benar serius menggarapnya.

Kebangkrutan Tupperware adalah pengingat keras bahwa warisan merek yang kuat sekalipun tidak dapat menyelamatkan bisnis yang gagal berevolusi. Bagi para pebisnis, kunci utamanya adalah tetap relevan, tetap inovatif, dan selalu siap menghadapi perubahan zaman.

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

15 − 4 =

Scroll to Top