
SKALABESAR.ID — Setiap pebisnis pasti bermimpi bisnisnya bisa tumbuh besar, punya cabang di banyak kota, bahkan menjangkau pasar internasional. Namun, tidak semua pertumbuhan berarti kesuksesan. Ada kalanya ekspansi yang terlalu cepat justru membawa bisnis ke jurang kehancuran.
Inilah pelajaran berharga dari sebuah restoran cepat saji bernama B.good, yang pernah punya 69 outlet di berbagai wilayah, tapi kini hanya tersisa 12 saja, pada 2024 lalu.
Awal yang Kuat dengan Diferensiasi yang Unik
B.good berdiri pada tahun 2004 dengan konsep yang berbeda dari restoran cepat saji kebanyakan. Mereka menjual burger dan makanan cepat saji lain dengan bahan segar dan lokal. Bukan hanya itu, B.good juga membangun budaya “keluarga” untuk karyawan dan pelanggannya. Karyawan didorong untuk mengenal pelanggan secara pribadi, bahkan merekomendasikan anggota keluarga mereka sendiri untuk bekerja di perusahaan.
Konsep ini terasa segar di industri fast food yang biasanya identik dengan standar massal dan jarak antara perusahaan dengan konsumen. Nilai “fresh and local” serta budaya kekeluargaan membuat B.good punya value proposition yang jelas dan disukai banyak orang. Selama delapan tahun pertama, strategi pertumbuhan mereka sangat hati-hati dan hanya membuka delapan restoran di Boston. Semuanya dikelola langsung (bukan franchise). Artinya, pertumbuhan mereka selaras dengan kapasitas internal.
Dari Konsistensi ke Ambisi
Masalah muncul ketika manajemen mulai mengubah strategi. Demi mengejar pertumbuhan yang lebih cepat, mereka memperluas jumlah outlet secara agresif. Pada tahun 2019, B.good sudah memiliki 69 outlet yang tersebar di berbagai wilayah Amerika Serikat hingga Kanada. Tidak hanya itu, mereka juga mulai menjual franchise untuk mendapatkan modal tambahan.
Sekilas, ini terlihat seperti langkah sukses. Jumlah outlet bertambah drastis, brand makin dikenal luas, dan potensi keuntungan terlihat menjanjikan. Namun di balik layar, ada masalah besar yang tidak terlihat.
Tantangan Operasional yang Menggerus Bisnis
Ketika sebuah bisnis yang awalnya sangat bergantung pada konsep “fresh and local” tiba-tiba memperluas skala dengan cepat, tantangan operasional menjadi sangat kompleks.
Setiap kali B.good masuk ke wilayah baru, mereka harus mencari rantai pasokan baru untuk memastikan bahan tetap segar dan lokal. Ini artinya tidak ada efisiensi skala yang bisa didapatkan, justru biaya dan kerumitan semakin tinggi.
Selain itu, model franchise membawa dilema lain. Tidak semua franchisee bisa benar-benar memahami dan menjalankan filosofi perusahaan. Dibutuhkan waktu lama untuk memastikan setiap mitra memiliki nilai dan standar yang sama. Hal ini menjadi beban besar karena core value perusahaan sulit dipertahankan.
Dengan kata lain, pertumbuhan yang agresif membuat B.good kehilangan kontrol atas hal yang justru menjadi keunggulan utamanya.
Konsekuensi dari Strategi yang Tidak Terintegrasi
Perubahan strategi ini menunjukkan bahwa perusahaan tidak lagi memiliki arah pertumbuhan yang terintegrasi. Alih-alih menyelaraskan rate (kecepatan ekspansi), direction (wilayah ekspansi), dan method (cara ekspansi: franchise atau company-owned), B.good mencoba melakukan semuanya sekaligus tanpa pertimbangan mendalam.
Akibatnya, bisnis justru goyah. Pada akhirnya, banyak outlet yang ditutup. Dari 69 gerai pada puncaknya, tahun 2023 hanya tersisa 12 outlet. 11 di area Boston dan 1 di New Hampshire. Dari perusahaan yang sempat terlihat menjanjikan, kini mereka kembali menjadi pemain kecil.
Pelajaran Berharga untuk Pebisnis yang Mau Scale Up
Kisah B.good menyimpan pelajaran penting bagi para pebisnis Indonesia, terutama yang sedang bersemangat untuk scale up bisnisnya:
-
Pertumbuhan Harus Selaras dengan Value Proposition
Jangan sampai dalam mengejar pertumbuhan, Anda melupakan nilai unik yang membuat bisnis Anda berbeda. Jika kekuatan bisnis Anda adalah kualitas premium atau layanan personal, pikirkan apakah nilai itu bisa dijaga saat ekspansi. -
Jangan Tergoda Ekspansi Terlalu Cepat
Banyak pebisnis terjebak euforia setelah sukses di beberapa cabang, lalu buru-buru membuka puluhan cabang baru. Padahal, setiap cabang membawa tantangan operasional, SDM, dan kualitas layanan yang harus dijaga. -
Pilih Metode Pertumbuhan yang Konsisten
Mau tetap company-owned atau buka franchise? Mau fokus di satu kota dulu atau langsung go nasional? Jawabannya harus jelas dan konsisten. Jangan ambil jalan tengah hanya karena ingin cepat besar. -
Ekspansi Bukan Hanya Soal Modal, Tapi Sistem
Punya modal besar untuk buka cabang tidak cukup. Yang jauh lebih penting adalah sistem manajemen, rantai pasokan, standar kualitas, dan budaya organisasi yang siap ditiru di berbagai lokasi. -
Berani Memilih, Bukan Serakah Menyikat Semua
Perusahaan yang sukses adalah mereka yang berani memilih jalannya dengan jelas. Apakah ingin tumbuh lambat tapi solid, atau cepat dengan risiko besar. Tidak mungkin keduanya dijalankan sekaligus.
Relevansi untuk Pebisnis Indonesia
Jika kita lihat tren di Indonesia, banyak bisnis kuliner yang tumbuh cepat karena viral di media sosial. Dari kopi susu kekinian, ayam geprek, hingga minuman boba, banyak yang berani buka ratusan cabang dalam waktu singkat. Namun, tidak sedikit yang akhirnya meredup karena kualitas tidak konsisten, pasokan bahan bermasalah, atau manajemen franchise kacau.
B.good adalah contoh nyata bahwa pertumbuhan cepat tanpa strategi terintegrasi bisa jadi bumerang. Sebagai pebisnis, Anda perlu bertanya, “Apakah bisnis Anda benar-benar siap untuk scale up? Atau justru lebih baik mengokohkan sistem dulu sebelum ekspansi?”
Selain itu, kisah B.good mengingatkan kita bahwa membangun bisnis bukan lomba siapa yang paling cepat besar, tapi siapa yang paling tahan lama. Pertumbuhan yang sehat adalah pertumbuhan yang terencana, terukur, dan selaras dengan kekuatan utama bisnis.
Sebelum tergoda membuka puluhan cabang, tanyakan pada diri sendiri, apakah bisnis Anda sudah siap? Karena jika tidak, Anda bisa saja bernasib sama seperti B.good, dari 69 outlet kembali tersisa hanya 12.



